Gimana cerita gue sama si Pinot?? udeh diterjang ombak!!
Tiba-tiba si Pinot ngajak gue buat tutup buku..*tutup buku??* u know laahh~ ahaha. Males juga gue ceritanya, agak kesel juga, ya gitu dah pokoknya..
Tapi itu gak nge-pek buat gue..ahaha. Suasana mendukung kan, gue udah masuk kampus baru, sibuk nyari temen, caper sana-sini, tapi gue tau malu..wkwkwk.
Iaudah gitu doang.. kejadiannya gue lupa, pokoknya awal bulan september 2013..
cukup~
Syahbudin Lail (Ayil)
Welcome to my world...!
Rabu, 02 Oktober 2013
Minggu, 08 September 2013
Naskah, "Lena Tak Pulang."
Lena Tak Pulang
Karya : Muram Batubara
JUARA I
LOMBA PENULISAN NASKAH TEATER REMAJA
TAMAN BUDAYA JAWA TIMUR
2006
2006
SATU
Lampu
menyala.
Dalam
sebuah rumah. Sofa besar menghadap tv. Meja makan. Kulkas. Pintu kamar mandi.
Pintu dapur. Pintu kamar tidur. Pintu keluar masuk rumah. Pak Lena duduk
memandang tv. Bu Lena keluar dari kamar mandi.
Bu Lena
Lena sudah pulang, Pak?
Pak Lena
Belum
Bu Lena
(Duduk di kursi meja makan) Bagaimana ini? Sudah tiga
hari ia tidak pulang.
Pak Lena
Nanti juga pulang
Bu Lena
Sudah tiga hari
Pak Lena
Nanti juga pulang
Bu Lena
Ya, tapi belum juga pulang, padahal sudah tiga hari.
Dia itu kan perempuan.
Pak Lena
(Tetap memandang tv) Anak kita
Bu Lena
Iya, anak kita, tapi ia perempuan dan belum pulang
tiga hari.
Pak Lena
Nanti juga pulang sendiri ketika bekalnya lari telah
habis.
Bu Lena
Tidak segampang itu, Pak, ia itu perempuan!
Pak Lena
Jika memang ia perempuan, ia akan pulang.
Bu Lena
Tapi belum…(Menghentikan kalimat, memperhatikan pintu
keluar rumah)
Ada yang datang, sepertinya itu Lena, anak kita,
pulang juga ia setelah tiga hari tidak pulang.
Pak Lena
Bukan, pasti temannya datang mencari.
Bu Lena
Pasti Lena
Pak Lena
Berani taruhan
Bu Lena
Taruhan apa?
Pak Lena
Jika bukan Lena, lebaran tahun ini kita pulang ke
rumah orang tuaku.
Bu Lena
Tapi tahun kemarin sudah
Pak Lena
Itu karena kau kalah taruhan
Bu Lena
Ya tidak bisa, bayangkan dalam lima tahun ini kita
tidak pernah pulang ke rumah orang tuaku.
Pak Lena
Berani taruhan tidak?
Bu Lena
(Bingung) Ehm…
Pak Lena
Dengar langkah itu sudah semakin dekat.
Bu Lena
Baik
Terdengar ketukan pintu. Bu
Lena membuka pintu. Kecewa.
Tamu I
Permisi Tante, Lenanya ada?
Bu Lena
Oh tidak ada, dia belum pulang.
Tamu I
Belum pulang? Pergi ke mana ya Tante?
Bu Lena
Tante juga tidak tahu tuh, kamu tahu tidak?
Tamu I
Ya, kalau tahu saya tidak datang Tante.
Bu Lena
Iya juga ya. Hm, kamu teman sekolahnya ya?
Tamu I
Bukan Tante, saya teman…
Pak Lena
(Memotong) Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang
diterima di depan pintu.
Tamu I
Terima kasih Om, saya harus kembali pulang.
Pak Lena
Kenapa buru-buru?
Tamu I
Ada yang harus buru-buru saya lakukan
Bu Lena
Jika buru-buru, kenapa mencari Lena?
Tamu I
Ya itu dia, Tante. Karena Lenalah saya harus
buru-buru?
Pak Lena
Masuk dulu jangan buru-buru
Bu Lena
Iya masuk dulu
Tamu I
Maaf tidak bisa, saya permisi dulu.
Bu
Lena menutup pintu. Duduk di ruang tv.
Pak Lena
Siapa namanya?
Bu Lena
Siapa?
Pak Lena
Yang tadi?
Bu Lena
Teman Lena
Pak Lena
Iya, teman Lena tadi namanya siapa?
Bu Lena
Berarti tahun ini kita pulang ke rumah orang tuamu
lagi?
Pak Lena
Jelas! Siapa nama teman Lena tadi!
Bu Lena
Sudahlah ke rumah orang tuaku saja. Kasihan ibu sudah
semakin tua, dia ingin melihat kita sekeluarga kan?
Pak Lena
Tidak bisa! Kesepakatan telah tercipta, tidak bisa
dirubah. Jika terus dirubah, bagaimana menjalankan kesepakatan itu dan untuk
apa membuat kesepakatan jika tidak ada kepastian untuk dilakukan. Siapa nama
teman Lena tadi?
Bu Lena
Nggak tahu.
Pak Lena
Loh
Bu Lena
Kok loh
Pak Lena
Ya, loh, bagaimana mungkin kamu tidak menanyakannya?
Bu Lena
Kenapa bukan kamu?
Pak Lena
Aku kan sedang nonton tv dan aku tidak sedang
berhadapan langsung dengannya.
Terdengar ketukan pintu.
Pak Lena
Ada yang ketuk pintu, bukahlah.
Bu Lena
Bagaimana jika Lena?
Pak Lena
Ya tetap dibuka pintu kan?
Terdengar ketukan pintu.
Bu Lena
Bukan itu, jika bukan Lena, perjanjian tadi batal.
Terdengar ketukan pintu.
Pak Lena
Bukalah pintu itu, kasihan tamunya.
Bu Lena
Buat satu kesepakatan baru dulu.
Terdengar ketukan pintu.
Bu Lena
(Teriak ke arah pintu) sebentar ya, lagi menunggu
kesepakan nih, sabar ya.
Pak Lena
Ya sudah, buka sana.
Bu Lena
Kesepakatan?
Pak Lena
Yah!
Pintu terbuka. Bu Lena puas.
Perbincangan di depan pintu masuk rumah.
Tamu II
Kesepakatan apa Tante?
Bu Lena
Ah, tidak. Kamu siapa dan ada apa?
Tamu II
Saya temannya Lena, Tante, kebetulan saya sedang main
di daerah sini.
Bu Lena
Terus
Tamu II
Ya, terus saya mampir. Karena kebetulan saya sedang
main di daerah sini, jadi saya mampir ke sini, Tante.
Bu Lena
Terus
Tamu II
Ya, karena itu Tante, hm, Lenanya ada?
Bu Lena
Jadi karena kebetulan main di daerah sini, kamu mampir
dan mencari Lena?
Tamu II
Benar itu Tante.
Bu Lena
Karena kebetulan?
Tamu II
Sebenarnya tidak Tante.
Bu Lena
Yang benar yang mana?
Tamu II
Saya memang mencari Lena, Tante.
Bu Lena
Karena main di daerah sini?
Tamu II
Tidak Tante, saya memang sengaja kemari untuk mencari
Lena. Sumpah, Tante.
Pak Lena
(Memotong) Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang
diterima di depan pintu.
Tamu II masuk dan duduk di ruang tv. Bu
Lena masuk dapur.
Tamu II
Nonton berita ya, Om?
Pak Lena
Tidak, cuma sedang melihat tanggapan wakil rakyat
tentang bencana yang tidak berkesudahan.
Tamu II
Itukan berita namanya, Om.
Pak Lena
Itu bukan berita, itu opini. Opini itu pendapat,
kebenarannya masih belum bisa diandalkan. Namanya berita harus mengutamakan
kebenaran, kenyataan.
Tamu II
Tapi itukan acara berita, Om.
Pak Lena
Memang, beritanya, wakil rakyat sedang memberikan
opini.
Tamu II
Berarti sedang nonton berita, Om.
Pak Lena
Tidak, saya sedang melihat opini. Ingat, opini!
Tamu II
Bedanya apa, Om?
Pak Lena
Opini itu tidak murni kenyataan, namanya juga
pendapat, sedang berita itu nyata, kenyataan tadi. Begini, kucing ditabrak mobil,
itu berita.
Tamu II
Kalau opini?
Pak Lena
Mengapa kucing itu mau ditabrak?
Tamu II
Mungkin saja ia tidak melihat mobil yang laju,
tiba-tiba saja ia sudah bersimbah darah.
Pak Lena
Itu dia opini.
Tamu II
Opini?
Pak Lena
Ya, opini kamu. Lihat omongan wakil rakyat itu,
semuanya serba mungkin kan?
Tamu II
Jadi yang serba mungkin itu bukan berita?
Pak Lena
Mungkin kok berita. Mungkin itu kan belum jelas sedang
berita adalah yang jelas dan pasti.
Tamu II
Tapi apa yang pasti di jaman sekarang, Om?
Pak Lena
Ya, opini.
Bu Lena keluar dapur membawa teh dalam
gelas menuju kulkas. Membukanya.
Tamu II
Tidak usah yang dingin, Tante, lagi batuk.
Bu Lena
Mau puding?
Tamu II
Boleh, Tante.
Bu Lena
Tapi dingin?
Tamu II
Tidak apa-apa, Tante, kan cuma puding.
Bu Lena ke ruang tv dan meletakkan
sajian kemudian kembali menuju dapur.
Pak Lena
Kamu temannya Lena?
Tamu II
Benar itu, Om.
Pak Lena
Teman dari mana?
Tamu II
Ya teman saja, Om, tidak dari mana-mana.
Pak Lena
Yang dari sekolahan, les biola, les balet, renang,
atau malah dari kelas mengaji?
Tamu II
Untuk yang terakhir tampaknya bukan, Om.
Pak Lena
Mengapa? Apa karena sudah pintar mengaji?
Tamu II
Tidak Om, saya non muslim.
Pak Lena
Oh begitu, terus dari mana?
Tamu II
Saya teman Lena dari tempat nongkrong, Om.
Pak Lena
Seingat saya Lena tidak mengambil les nongkrong.
Tamu II
Om, lucu juga. Tempat nongkrong itu tempat kita
kumpul-kumpul, ya, istilah kerennya berbincang atau berdiskusi.
Pak Lena
Oh begitu, tapi yang nongkrong itu kan tentunya
berasal dari tempat tertentu. Nah, kamu itu selain teman nongkrong Lena, teman
di mana?
Tamu II
Ya tidak ada, Om. Saya cuma teman Lena di tempat
nongkrong.
Pak Lena
Terlalu tipis, pertemanan itu belum begitu kuat. Hm,
lalu maksud kamu mencari Lena?
Tamu II
Ya itu dia Om, saya ingin tahu tentang
apa yang terjadi dengan Lena. Sudah tiga hari ia tidak muncul, Om.
Pak Lena
Memangnya kenapa kalau ia tidak muncul dalam tiga
hari?
Tamu II
Ya itu dia, Om.
Pak Lena
Apa?
Tamu II
Ehm, dia bawa sesuatu yang penting, Om. Sesuatu yang
sangat saya banggakan.
Pak Lena
Oh begitu. Penting sekali?
Tamu II
Sangat penting malah, Om.
Pak Lena
Lena mengambilnya dari kamu?
Tamu II
Begitulah Om, saya malah tidak tahu bagaimana bersikap
jika tidak ada kabar dari Lena.
Pak Lena
Banyakkah?
Tamu II
Ya kalau besar itu dianggap banyak, ya, banyak Om.
Pak Lena
Begini saja, kamu pulang dulu, besok kamu kembali
lagi. Yang kamu punya itu pasti akan kembali.
Tamu II
Tapi Lenanya bagaimana Om?
Pak Lena
Itu urusan saya.
Tamu II
Kalau memang begitu, tentunya dengan ada kepastian
dari Om, saya menjadi yakin untuk datang besok.
Pak Lena
Ya, ya, pulanglah.
Tamu II pergi, Bu Lena masuk.
Pak Lena
Anakmu membawa lari uang temannya?
Bu Lena
Bagaimana bisa?
Pak Lena
Temannya yang datang tadi, yang terlalu banyak bicara
itu, melaporkan apa yang telah dilakukan anakmu.
Bu Lena
Anak kita
Pak Lena
Ya, anak kita. Pencuri.
Bu Lena
Belum tentu benar, jangan terlalu banyak percaya
dengan orang yang terlalu banyak bicara.
Pak Lena
Tapi bagaimana bisa kita percaya dengan orang yang
sedikit bicara, dari mana kita tahu isi kepalanya jika tidak dikeluarkannya.
Bu Lena
Terlalu banyak bicara malah menghilangkan kata-kata
kunci, kata yang seharusnya bisa menjadi andalan.
Pak Lena
Tanpa bicara, kata kunci itu malah tidak keluar,
bagaimana bisa ia tampak?
Bu Lena
Tetapi mengapa kau begitu percaya dengan anak ingusan
yang terlalu banyak bicara itu?
Pak Lena
Karena tampaknya benar, sudah tiga hari
Lena pun tidak muncul di tempat biasa mereka bertemu.
Bu Lena
Bagaimana jika benar?
Pak Lena
Kita harus menggantinya, tidak bisa tidak, Lena kan
anak kita.
Bu Lena
Jika tidak benar?
Pak Lena
Mau taruhan?
Lampu padam
DUA
Lampu menyala. Dalam sebuah
rumah. Sofa besar menghadap tv. Meja makan. Kulkas. Pintu kamar mandi. Pintu
dapur. Pintu kamar tidur. Pintu keluar masuk rumah. Pak Lena duduk memandang
tv. Bu Lena keluar dari kamar mandi.
Bu Lena
Lena sudah pulang, Pak?
Pak Lena
Belum
Bu Lena
(Duduk di kursi meja makan) Bagaimana ini? Sudah empat
hari ia tidak pulang.
Pak Lena
Nanti juga pulang
Bu Lena
Kemarin kau jawab seperti itu juga, tidak kemarin
saja, kemarinnya lagi dan kemarinnya lagi juga.
Pak Lena
Terus harus bagaimana? Berteriak, mengabarkan pada
semua orang bahwa anak kita yang perempuan tidak pulang dalam empat hari ini.
Bagaimana kata dunia? Apa kata mereka pada kita? Orang tua yang tidak
bertanggung jawab?
Bu Lena
Tampaknya kita memang tidak bertanggung jawab.
Pak Lena
Kok bisa?
Bu Lena
Lihatlah sendiri! Apa yang kita lakukan pada anak
kita? Empat hari, bayangkan empat hari anak kita tidak pulang, tidak ada usaha
kita untuk mencarinya.
Pak Lena
Menunggu juga mencari.
Bu Lena
Menunggu itu pasrah
Pak Lena
Tidak sama, pasrah itu tanpa berbuat. Mununggu itu kan
berbuat, sama seperti berdoa.
Bu Lena
Apa yang dilakukan dalam menunggu? Diam memandang tv
atau sibuk berbincang tanpa tujuan?
Pak Lena
Jika kita ke kantor polisi dan melaporkan kehilangan
anak, terus apa yang kita lakukan? Menunggu kan? Menunggu kabar dari pak polisi
itu. Dan dalam menunggu kabar dari pak polisi, kita juga menonton tv atau
berbincang kemana suka kan? Sama saja.
Bu Lena
Beda
Pak Lena
Apanya yang beda? Jika kita memasang iklan tentang
kehilangan, sama juga seperti melapor ke polisi. Jika kita mencari sendiri,
sama juga dengan menunggu kabar kan? Kita mencari itu tanpa tujuan, kita tidak
tahu di mana anak kita berada, jadi sama juga dengan nol. Kita tetap juga
menunggu. Daripada kita memutari kota, tentunya habis energi, toh lebih baik
kita di rumah. Semuanya itu berarti menunggu, mencari itu juga menunggu.
Menunggu juga mencari. Jelas!
Bu Lena
Pusing aku. Jika kita tahu di mana Lena berada kan
gampang, bisa kita jemput.
Pak Lena
Itu dia kata yang tepat. Menjemput. Menjemput itu
jelas beda dengan mencari atau juga menunggu.
Bu Lena
Tapi kita tidak tahu di mana Lena berada?
Pak Lena
Yah harus dicari
Bu Lena
Dengan?
Pak Lena
Ya menunggu.
Terdengar ketukan pintu
Pak Lena
Bagaimana ini, ini pasti teman Lena yang banyak bicara
kemarin itu.
Bu Lena
Yang uangnya Lena curi itu?
Pak Lena
Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan.
Bu Lena
Kita bayar saja
Pak Lena
Tapi kita belum ketemu Lena, bisa saja berita ini
tidak benar.
Terdengar Ketukan pintu
Bu Lena
Jika belum benar, jangan dibayar dulu
Pak Lena
Tapi kita belum tahu mana yang benar. Kenapa Lena
belum pulang juga.
Terdengar ketukan pintu
Bu Lena
Bagaimana jika dia datang dengan polisi.
Terdengar ketukan pintu
Pak Lena
Bukahlah pintu
Bu Lena
Kau saja
Pak Lena
Kau kan perempuan
Bu Lena
Kau kan laki-laki
Pak Lena
Perempuan duluan, atas nama kesopanan.
Terdengar ketukan pintu
Bu Lena
(Teriak ke arah pintu masuk) Sebentar ya.
Pak Lena
Bukalah pintunya (Berlari kecil menuju depan tv,
seakan-akan tak terjadi sesuatu)
Pintu Terbuka. Bu Lena bingung.
Tamu I
Maaf Tante, Lenanya sudah pulang? Belum
ya? Ya sudahlah, nanti saya datang lagi. Terima kasih Tante. Tolong nanti kalau
Lena pulang, katakan saja saya mencari dan akan kembali lagi. Permisi Tante.
(Pergi menghilang)
Pak Lena
Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di
depan pintu.
Bu Lena
Sudah pulang (menutup pintu dan berjalan menuju ruang
tv) tamunya sudah pulang.
Pak Lena
Tukang pos?
Bu Lena
Bukan, temannya Lena?
Pak Lena
Yang kemarin?
Bu Lena
Ya
Pak Lena
Terus dia menagih uangnya? Apa yang kau bilang hingga
dia langsung pulang.
Bu Lena
Aku tidak bilang apa-apa dan dia bukan yang uangnya
dicuri Lena.
Pak Lena
Jadi teman yang mana?
Bu Lena
Yang pertama datang, yang lupa kutanyakan namanya.
Pak Lena
Sudah tahu kau namanya?
Bu Lena
Belum, dia terlalu buru-buru. Belum sempat aku bicara
dia sudah pergi.
Pak Lena
Tampaknya dia memang selalu buru-buru.
Tunggu dulu, siapa nama teman Lena yang banyak bicara itu?
Bu Lena
Kenapa kau tanyakan aku, bukankah kau yang banyak
bicara dengannya? Seharusnya kau tanyakan namanya.
Pak Lena
Itu dia, dia terlalu berlama-lama sampai aku lupa
menanyakan, padahal aku sudah berhadapan langsung dengannya.
Bu Lena
Sudahlah. Setidaknya bukan dia yang datang jadi kita
tidak perlu risau lagi.
Pak Lena
Untuk sementara
Bu Lena
Walau sementara, setidaknya tidak risau.
Lampu padam
TIGA
Lampu menyala. Dalam sebuah
rumah. Sofa besar menghadap tv. Meja makan. Kulkas. Pintu kamar mandi. Pintu
dapur. Pintu kamar tidur. Pintu keluar masuk rumah. Bu Lena duduk memandang tv.
Pak Lena keluar dari kamar mandi.
Pak Lena
Sudah hampir sore, hari keempat sejak tidak pulang,
apakah Lena tidak akan pulang lagi?
Bu Lena
Belum lima hari
Pak Lena
Hampir lima hari, lihatlah sudah mendekati senja. Jika
matahari terbenam dan terbit lagi, tepat lima hari Lena tidak pulang. Apakah
bekal larinya masih cukup?
Bu Lena
Mengapa kau kuatir?
Pak Lena
(Menuju pintu keluar masuk rumah, membukanya, menegok
keluar dan menutupnya kembali) Belum pulang juga.
Terdengar ketukan pintu. Pak Lena
langsung membuka. Tersenyum senang.
Pak Lena
Pulang juga rupanya kau Lena
Lena
Lapar (Berjalan menuju dapur, keluar lagi sambil
membawa piring makanan, makan di meja makan.)
Bu Lena
(Mendekat dan langsung duduk di samping Lena) Makanlah
yang banyak, tentunya kau lapar.
Pak Lena
(Mendekat dan langsung duduk di samping Lena) Dari
mana saja?
Bu Lena
Jangan ditanyakan dulu, biarkan dia makan dengan
tenang. Sudah hampir lima hari dia berada di luar, rindu dengan rumah ini
tentunya.
Pak Lena
Banyak temanmu yang datang.
Bu Lena
Jangan dikatakan dulu, biar dia makan dengan nyaman,
sudah lima hari dia di luar, banyak bertemu orang tentunya, lebih banyak dari
kawannya yang datang. (Berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan botol air
dingin, menuangkan ke gelas Lena) Dari mana saja kau Lena?
Pak Lena
Kenapa kau tanyakan?
Lena
Dari rumah teman (Terus makan)
Pak Lena
Temanmu yang mana? Yang dari sekolahan, les biola, les
balet, renang, kelas mengaji, atau malah teman nongkrong?
Bu Lena
Ya, yang mana?
Lena
Teman lain
Pak Lena
Masih ada temanmu yang lain rupanya.
Bu Lena
Teman yang mana?
Lena
Kenapa terlalu mengurusi sih? Bukannya selama ini aku
bebas, seperti yang kalian inginkan. Mengapa kalian bertanya ketika aku
menghilang, mengapa tidak mencari? Lalu, apakah kalian pernah menanyakan aku
sekolah apa tidak? Dan, untuk apa les yang mahal-mahal itu, bukan untukku kan?
Untuk kalian yang gila gengsi tanpa memikirkan kebutuhanku kan? (Berdiri,
membawa makanan, duduk di depan tv sambil terus makan.)
Pak Lena
(Berbisik) Bagaimana ini?
Bu Lena
(Berbisik pula) Bagaimana apanya?
Pak Lena
Dia terlalu tertutup, kita harus bisa membukanya.
Mengapa kita yang disalahkan? Kita kan hanya menanyakan temannya
saja.(Mendekati Lena) Enak makannya?
Lena
Biasa saja
Bu Lena
(Mendekati Lena) Tentunya enak, Ibu
sengaja masak untuk kamu.
Lena
Sejak kapan masak khusus? (Berjalan menuju dapur,
masuk ke dalamnya)
Bu Lena
(Berbisik) Tidak berhasil. Tampaknya dia memang marah
pada kita.
Pak Lena
(Berbisik pula) Kita harus lebih berusaha lagi.
Lena keluar dari dapur tanpa membawa
sebarang pun. Bu Lena dan Pak Lena mendekat, persisi menghalangi jalan Lena
yang masih berada di depan pintu.
Pak Lena
Sudah selesai makannya?
Bu Lena
Enak kan? Pasti kenyang.
Lena
(Menghindar dan berjalan menuju kamar tidur) Mau tidur
Pak Lena
(Mengejar hingga depan pintu kamar tidur) Belum malam
Bu Lena
(Ikut mengejar) Iya, belum malam, mari kita berbincang
dulu.
Lena masuk kamar. Pintu tertutup. Bu
Lena dan Pak Lena duduk di kursi meja makan.
Bu Lena
Apa sebab dia begitu dingin
Pak Lena
Mungkin kita terlalu kaku
Bu Lena
Kau yang kaku
Pak Lena
Mungkin kau juga.
Terdengar ketukan pintu
Pak Lena
Pasti temannya yang banyak bicara itu, yang uangnya
dicuri Lena, bagaimana ini? Kita belum bicara tentang itu dengan Lena.
Bu Lena
Mungkin temannya yang lain.
Terdengar ketukan pintu
Bu Lena
Kau saja yang buka, terserah itu melangkahi kesopanan.
Pak Lena
(Malas membuka pintu, hingga sampai
depan pintu, menoleh ke Bu Lena dengan bingung)
Sebaiknya kau saja.
Terdengar ketukan pintu. Pak Lena
terkejut dan langsung membuka pintu. Tambah terkejut melihat tamu yang datang.
Tamu II
Terkejut, Om.
Pak Lena
(Gagap) Tidak, tidak. Ayo masuklah.
Bu Lena menyingkir ke dapur. Pak Lena
dan Tamu II duduk menghadap tv.
Tamu II
Saya tidak kebetulan main ke daerah sini, Om. Saya
khusus datang seperti permintaan, Om, kemarin itu. Jadi rasanya tidak perlu
basa-basi lagi…
Pak Lena
(Memotong) Basa-basi itu terkadang perlu. Ayolah
berbasa- basi.
Bu Lena
(Muncul membawa segelas minuman hangat) Iya, kenapa
harus langsung jika kita bisa berbasa-basi terlebih dahulu.
Tamu II
Wah, tampaknya akan ada lampu hijau nih.
Pak Lena
Tidak hanya boleh langsung jalan, ini jalan tol jadi
bisa sekencang apa juga.
Tamu II
Boleh ngebut?
Pak Lena
Oh tentu, asal pakai pengaman biar tidak kecelakaan.
Tamu II
(Tertawa) Ini dia calon mertua yang paling hebat.
Bu Lena
Mertua?
Pak Lena
Ada apa dengan mertua?
Tamu II
(Bingung) Katanya boleh langsung ngebut?
Pak Lena
(Bingung juga) Tunggu dulu. Begini saja, kita buang
dulu basa-basi. Apa maksudnya ini? Mertua dan ngebut, hubungannya apa?
Tamu II
Loh, bukankah sudah jelas Om, ini soal sesuatu yang
saya miliki itu, yang dibawa Lena.
Bu Lena
Ya terus.
Tamu II
Bukankah hari ini akan saya temukan lagi, seperti
janji Om kemarin.
Bu Lena
Uang kan?
Pak Lena
Ya, berapa yang dicuri dari kamu?
Bu Lena
Masalah besarnya tidak perlu risau, kami
akan bayarkan semuanya, bagaimanapun Lena itu anak kami, jadi tidak mungkin
kami membiarkannya mencuri uang kamu.
Pak Lena
Ya benar itu.
Bu Lena
Tunggu dulu, biar semuanya jelas (Berjalan menuju
kamar Lena) Lena! Keluar kamu, Nak.
Tamu II
Tunggu dulu, Tante…
Bu Lena
Tenang, biar jelas saja.
Tamu II
Tapi…
Pak Lena
Tenang saja
Bu Lena
Lena!
Lena
(Keluar dengan muka suntuk, bertambah suntuk begitu
melihat Tamu II) Ada apa?
Bu Lena
Ayo, ada yang harus kita selesaikan.
(Menggiring Lena ke depan tv)
Tamu II
(Tersenyum manis) Hai Len.
Lena
(Senyum masam) Ada apa?
Pak Lena
Tenang, santai semuanya. Begini, sebaiknya kita cari
tahu yang sebenarnya. Bu, kau saja yang bicara.
Bu Lena
Lena, teman kamu ini kemarin sudah
datang, tapi karena kamu belum pulang, kami suruh dia datang sekarang. Nah, dia
ini datang untuk meminta sesuatu yang kamu bawa, begitulah.
Pak Lena
Ya, dengan kata lain ia datang untuk menagih sesuatu
yang telah kau curi. Nah, berapa jumlahnya, Nak, berapa yang kau ambil darinya.
Tamu II
(Panik) Tunggu dulu…
Pak Lena
Sudah kamu jangan bicara dulu. Berapa Lena?
Lena
(Bingung) Lena tidak mencuri apa-apa.
Hey (Menunjuk Tamu II) kamu jangan sembarangan menuduh aku pencuri ya! Sampai
datang ke rumah lagi!
Bu Lena
Sabar Nak, tenang. Katakan saja jumlahnya, biar kita
ganti. Jangan takut kami marah. Sungguh kami tidak akan marah.
Pak Lena
Ya katakan saja, biar semuanya jelas.
Lena
Ahk, bagaimana ini!
Lena tidak mencuri, sumpah. Tanyakan saja sama dia. (Duduk dengan sewot)
Tamu II
Waduh, bagaimana ini, kenapa bisa kacau. Begini saja,
Om, saya permisi, anggap saja tidak terjadi apa-apa. (Bergerak pergi)
Pak Lena
(Menahan) Bagaimana kamu ini, bukannya kamu ingin
mengambil yang telah dicuri Lena?
Tamu II
Sudahlah Om, tidak apa-apa, biarkan saja.
Bu Lena
Tidak bisa begitu. Begini saja, berapa yang dicuri
Lena?
Lena
Ya berapa yang kucuri! Cepat bilang!
Tamu II
(Takut) Tidak ada…
Pak Lena
Apa!
Tamu II
Lena tidak mencuri uang, Om. Sejak tadi
dan malah kemarin saya sudah ingin jelaskan tapi Om tidak mau mendengar. Saya
pikir Om sudah mengerti dengan yang saya maksud.
Pak Lena
Kok malah menyalahkan.
Tamu II
Benar, Om. Saya sudah coba jelaskan. Lena tidak
mencuri uang tapi…
Bu Lena
Tapi apa? HP, perhiasan, atau apa?
Tamu II
Bukan itu Tante.
Bu Lena
Jadi apa? Bicara yang jelas!
Tamu II
(Malu) Lena mencuri hati saya, Tante.
Dengan kata lain, saya itu senang sama Lena tapi Lenanya belum memberikan
jawaban.
Terdengar ketukan pintu. Semuanya
terkejut.
Pak Lena
Siapa lagi itu, bukalah pintunya, Lena kamu yang buka.
Pintu terbuka. Lena tertawa.
Lena
Aku baru saja pulang, kamu bolak-balik ya mencari aku?
Tamu I
Kurang ajar, kalau utang cepat bayar dong!
Lena
Ala, gitu aja sewot.
Pak Lena
Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di
depan pintu.
Bu Lena
Siapa Len?
Lena
Teman
Bu Lena
Bawa temanmu ke dalam, tidak baik terus di depan
pintu.
Tamu I
Terima kasih Tante, di sini saja.
Pak Lena
Masuklah, biar saling bertemu semuanya.
Lena
Ayolah masuk
Tamu I
Bayar dulu utangmu, ini urusan kita berdua.
Lena
Iya, nanti di dalam.
Tamu I
Tapi…
Lena
Tidak ada alasan (menggandeng Tamu I)
SEMUANYA BERKUMPUL DI DEPAN TV
Bu Lena
Oh, rupanya kamu. Len, temanmu ini bolak-balik mencari
kamu.
Tamu I
Maaf Tante, merepotkan.
Pak Lena
Ah, tidak ada apa-apa. Kenapa terlihat begitu penting,
ada apa ini?
Tamu I
Tidak ada apa-apa, Om, cuma sekedar mampir.
Pak Lena
Kalau cuma sekedar berarti tidak berulang, benar
tidak?
Tamu II
Kalau begitu saya pulang lebih dulu saja, Om.
Pak Lena
Kamu di sini dulu, masalah yang tadi belum selesai.
Lena
Masalah apa lagi?
Bu Lena
Lena, kamu kan belum mengembalikan uang yang kamu curi
dari dia.
Tamu I
Kamu mencuri uang, Len?
Tamu II
Tidak… tidak, wah serba salah semuanya.
Pak Lena
Sudahlah, mari kita selesaikan. Lena, katakan saja
berapa yang kau ambil dari dia?
Lena
(Marah) Kenapa nggak ada yang percaya! Lena tidak
pernah mencuri uangnya!
Tamu II
Iya, Om. Lena tidak mencuri uang saya.
Lena
Dengar itu! Lena tidak pernah mencuri! Lena cuma
meminjam uang.
Tamu II
Kapan?
Lena
Bukan kamu!
Tamu I
Tidak, Om. Tidak, Tante. Lena tidak pernah meminjam
uang.
Lena
Hey!
Pak Lena
Tunggu dulu, ada apa ini?
Bu Lena
Ya, yang benar yang mana? Mencuri atau meminjam, lalu
uang siapa yang dicuri atau dipinjam?
Tamu I
Bukan uang saya.
Lena
Hey!
Tamu II
Sudah jelas, saya tidak ada hubungan dengan uang.
Seperti yang sudah terkatakan tadi, hati saya yang dicuri.
Bu Lena
Berarti uang kamu? Berapa?
Tamu I
Tidak ada, Tante.
Lena
Hey! Jangan bohong kamu. Aku pinjam uang kamu beberapa hari yang lalu
sebagai bekal lari dari rumah. Dan, bukankah kamu datang kemari untuk
menagihnya?
Bu Lena
Bekal lari?
Pak Lena
Lari dari mana, Nak?
Lena
Lihat, lihatlah orang tuaku ini kawan-kawan. Aku lari
dari rumah pun mereka tidak tahu. Yang mereka pikirkan semua baik-baik saja.
Aku benci! (marah mendekati menangis)
Tamu I
Aku tidak tahu, aku pinjami kamu uang bukan untuk itu.
Kalau aku tahu kamu pinjam uang untuk lari, aku tidak beri tentunya.
Tamu II
Kamu lari dari rumah? Kenapa tidak bilang padaku, Len.
Aku, ah…
Tamu I
Kenapa, kamu mau membantunya lari kan!
Lena
Diam kalian! Kalian (memandang orang tua) lihatlah
anak kalian ini! Apakah kalian hafal setiap tahi lalatnya? Apa kalian tahu yang
diinginkannya? Pandang aku melalui mataku jangan pandang aku dengan mata
kalian!
Bu Lena
Kenapa kamu harus lari, Nak. Bukankah hidup di luar
itu lebih berbahaya.
Pak Lena
Jika memang ingin lari, kamu kan bisa permisi dulu,
tidak perlu kamu pinjam uang kawan.
Lena
Ini bukan piknik…(menangis)
Bu Lena dan Pak Lena langsung mendekati
Lena.
Tamu I
(Menarik Tamu II ke sudut lain) Urusan keluarga,
sebaiknya kita menyingkir.
Tamu II
Kita harus permisi dulu
Tamu I
Kalau keadaannya seperti ini, sebaiknya tidak perlu.
Tamu II
Uangmu…
Tamu I
Sudahlah…
Tamu I dan Tamu II pergi dengan cepat.
Tangis Lena semakin menjadi.
Pak Lena
Diamlah, jangan menangis. Uang yang kamu pinjam akan
kita ganti. (Menyadari Tamu I dan Tamu II telah hilang) Bagaimana ini, mereka
telah hilang. Uangnya belum kita ganti.
Lena
(Sambil menangis) Bukan uang…
Pak Lena
Jika begitu mengapa menangis?
Bu Lena
Diamlah, jangan menangis terus. Kami bingung, Len.
Ceritalah, Nak.
Lena
Lena tidak pulang selama ini karena Lena merasa tidak
punya rumah.
Bu Lena
Tidak punya rumah?
Lena
Ya, rumah ini segalanya dihitung dengan uang, tidak
ada pembicaraan yang menyenangkan. Kalian sibuk dan Lena pun sibuk sendiri.
Tidak ada yang perhatikan. Lena benci. Lena butuh rumah yang benar-benar rumah!
Bu Lena
(Menangis) Maaf ya, Nak. Mungkin selama ini kami tidak
memperhatikan kamu, semuanya selalu dihitung dengan uang. Rumah ini rumah kamu,
rumah yang kami bebaskan untukmu, kami tidak ingin mengekang, kami rasa itu
yang baik.
Pak Lena
Membebaskan kamu bukan berarti tidak perhatian. Dulu
kami dikekang orang tua kami dan kami tidak suka, maka kami ingin kamu tidak
seperti kami.
Lena
(Lari masuk kamar) Seharusnya kalian jadi orang tua
yang benar-benar orang tua!
MUSIK PERLAHAN,
SAHYDU BEGITU TERASA. BU LENA TERUS MENANGIS.
Bu Lena
Kita salah mendidiknya…
Pak Lena
Sebenarnya kita bermaksud baik, tapi salah juga…
Bu Lena
Kita harus bagaimana? Membebaskannya salah,
mengekangnya juga bisa salah…
TERDENGAR KETUKAN PINTU
Bu Lena
Siapa lagi?
TERDENGAR KETUKAN PINTU. PAK LENA MENUJU
PINTU DAN MEMBUKANYA.
Bu
Lena
Siapa lagi?
Selesai
Yogyakarta
maret-april 2006
Langganan:
Komentar (Atom)