BIO
Nama lengkapnya Muchammad Syahbudin
Lail, biasa dipanggil Ayil. Dia anak ke 2
dari 3 bersaudara, lahir di
Bekasi 13 Mei 1995. Berkediaman di Bekasi timur, Mustika Jaya perumahan
Bumyagara blok C9 no. 6.
Tinggal bersama keluarga sederhana
keturunan asli Indonesia campuran ras suku Betawi, Jawa, Sunda. Mempunyai ayah
bernama Mohamad Ali dan ibu bernama Yati Kurniati.
Sejak kecil punya teman hayalan bernama Boti. Ayil
mempunyai teman hayalan sejak kakaknya meninggal dunia di tahun 2000 dan dia
menjadi anak sematawayang, betapa senang menjadi anak sematawayang ketika
meminta apapun pasti dikabulkan oleh orangtua walaupun tidak pasti kapan
terkabulnya.
Pada tahun 2003 di bulan April,
Ayil mempunyai adik sebut saja namanya Firah. Semua perhatian orangtua-nya
teralih ke adik-nya, Ayil mengerti kondisi tersebut.
Hingga saat ini mimpi Ayil adalah “gue mau menjadi
seorang seniman yang sukses dan patuh kepada orangtua.” (semua orang tertawa
mendengar dan membacanya).
Sekarang Ayil
sangat dikenal oleh teman-teman dan rekan-rekan di kotanya karena gaya, prinsif
dan cara bergaul yang khas dari dirinya, Dia disegani. Dan ada yang menjaga
jarak darinya itu hanya orang-orang yang tidak pandai bergaul dan tidak
mengenal sisi dalam dari dirinya. Ayil juga cenderung 55% memiliki penyakit
“Syndrome Asperger”.
BUKAN BERDARAH SENI
Ayil bukan terdiri dari keluarga seni
dan tidak mempunyai bakat autodidak seni, semua berawal dari nol. Ayah dan
ibunya adalah seorang wirausaha kelas menengah, namun Ayil ingin terlihat
berbeda di dalam keluarga itu.
Ketika Ayil berumur 16 tahun ayah
melihat aneh dengan pribadi Ayil yang berkesenian. “Seniman itu jarang yang
memiliki kesuksesan !” ayahnya menyindir. “Seniman memiliki kesuksesan dunia
dan batin dengan mewarnai dunia, mempunyai kejayaan, mempunyai ketenaran, dan
semua lebih dari orang-orang berdasi yang sukses.” Ayil berbicara dan langsung
pergi dari rumah untuk bermain.
Karena mencintai seni, Ayil pun
mencintai seni aksesoris. Bukan karena untuk bergaya. Ayil mempunyai koleksi
aksesoris dan gelang adalah aksesoris yang mayoritas dia miliki. Karena memakai
gelang begitu banyak sampai-sampai Ayil diledeki seperti paranormal kebanyakan
di Indonesia, namun Ayil menghargai penilaian dari teman-temannya dan orang
sekelilingnya. “Orang awam nggak pernah ingin tahu...” terucap oleh Ayil. Murid
yang berbeda penampilan di sekolah adalah Ayil. Hanya dia murid laki-laki di
sekolahnya yang memakai aksesoris, itu sudah melanggar 1 poin tatatertib di
sekolah. Sudah 5 kali aksesorisnya disita oleh gurunya, namun hal itu membuat
Ayil tidak kapok untuk memakai aksesoris di sekolah. Pada saat Ayil baru datang
memasuki kelas, tiba-tiba dicegat oleh walikelasnya. “Kamu memakai banyak
gelang mau mengikuti gaya para preman ?” walikelasnya menegaskan Ayil. “Tidak,
adanya para preman yang mengikuti gaya saya !” menegaskan balik kepada
walikelasnya itu. Akhirnya beberapa lama kemudian tidak sengaja Ayil mendengar
pembicaraan rapat para guru, membahas memberi kebebasan kepada Ayil untuk
memakai gelangnya itu.
Ayil menjadi anak yang mempunyai
khas berpenampilan yang sangat beda dari yang anak yang lainnya, karena itu
semua orang yang ada di sekolah sangat mudah untuk mengenal Ayil.
BELAJAR DIBIDANG MUSIK
Sejak duduk di sekolah dasar kelas 3
sekolah dasar di tahun 2005 Ayil senang dengan pelajaran seni & budaya,
menurutnya pelajaran seni adalah pelajaran yang paling menyenangkan. Dia
berseru kepada teman-temannya “Seni lebih tua daripada aku dan kalian semua !”
lalu semua teman-teman satu kelas menertawakannya karena tidak mengerti apa
yang telah di bicarakannya. Dia senang dengan beberapa band papan atas pada
masa itu seperti JAMRUD, DEWA 19, UNGU, PETERPAN.
Saking terobsesi dengan band
tersebut Ayil belajar dan bermain gitar dengan temannya, lagu pertama kali yang
di mainkan adalah lagu “PETERPAN – Semua tentang kita”. Berguru untuk memainkan
dengan kunci-kunci dasar gitar hanya 2 Minggu, setelah itu Ayil meminta kepada
ayahnya untuk dibelikan sebuah gitar.
Sejak masih sekolah dasar kelas 6
sekolah dasar, Ayil sudah mempunyai sebuah band tapi itu hanya untuk kesenangan
belaka, Ayil menjadi Gitaris. Indra Dewo adalah teman satu bandnya yang sampai
sekarang masih aktif bermusik dan sekarang Dewo menjadi Bassis + Growl Vokal di
band Bloody Symphony yang bergenre Death Metal.
Lalu pada 2007, Ayil dan
teman-teman satu tongkrongannya membangun sebuah band bergenre Heavy Rock
bernama “NO_ID” dengan posisi gitaris
namun tidak berlangsung lama dikarenakan ada perselisihan antar personel. Ayil
belajar dibidang seni musik dengan beraneka aliran genre, seperti : Blues,
Reggae, Ska, Jazzy, Alternative, Metal, Rock, Grunge. “Musik itu bebas, Universal dan semua orang suka musik.”,
Pendapat Ayil.
Mempertahankan dan menambah ilmu
tentang gitar dan bass. Sekarang Ayil mencoba masuk kedunia vokal solo dan
Band.
Tidak hanya belajar bermain musik,
Ayil juga senang mengulik lagu-lagu dan membuat lagu dengan gaya bermusiknya
selalu ditemani dengan gitar acoustic, minuman kaleng A&W dan sebuah laptop
miliknya.
Di tahun 2012 ketika Ayil duduk di
kelas 2 SMK, bulan April sempat menggarap band dan menjadi vokalis disebuah
band bergenre Alternative bernama “CABLE” tetapi Ayil tidak merasa nyaman
karena semua personel “CABLE” tidak profesional untuk menggarap sebuah band, lalu
bulan Mei dia di recruit menjadi
vokalis disebuah band bergenre Grunge bernama “ASPERGER”.
Ayil sangat sependapat ketika
membaca biografi singkat 1967-1994, Kurt Donald Cobain (musisi Grunge). Isinya
bagi para musisi Seattle, “Sebuah musik bukan dinilai dari susunan iramanya
tetapi dititikberatkan dari jiwanya. Musik haruslah perihal keyakinan atau
hasil penglihatan dan perasaan dilingkungan pribadi ataupun masyarakat dunia.
Musik jangan menjadi sebuah boneka seni yang terlalu kaku dan terkesan terlalu
dipaksakan agar diterima oleh pasar.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar